Rabu, 16 Januari 2019

Mengawal Pemilihan Umum





Kontes politik di Indonesia semakin dinamis dari tahun ke tahun, utamanya pada tahun 2019. Dewasa ini banyak perbedaan pandangan politik dan pilihan politik  di masyaraat, dari kalangan anak muda sampai orang-orang tua. Ini adalah sebuah prestasi dalam masyarakat, karena mereka mulai sadar bahwa politik adalah salah satu  penentu arah  kehidupan dalam negara yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan mereka. Namun, prestasi ini juga menjadi tantangan yang akan membuktikan seberapa dewasa bangsa kita dalam berpikir dalam dimensi kesadaran dan ruang nuraninya. Tulisan ini hanya sebuah pikiran kecil dari akademisi yang ingin ikut berperan dalam kemajuan bangsa, menyambut debat pertama malam nanti.

Kontes politik 2019 sejatinya telah dimulai sejak terpilihnya salah satu paslon pada 2014 lalu, tetapi secara resmi kontes 2019 ini diawali pada pengumuman masing calon dan pasangannya pada September 2018 yang memang sirtuasinya agak berbeda, ini bakal jadi pertarungan yang menarik dan besar harapan menjadikan masyarakat semakin cerdas dalam memandang politik. Kita bakal bahas satu2 tentang komposisi masing2, kalo dari pak jaokowi pasangannya adalah K.H. Ma’ruf Amin dan Pak Prabowo maju bersama Sandiaga Uno yang sebelumnya adlaah wagub dari pak anis baswedan. kita mulai dr pk jokowi dulu ya, komposisi dari pak jokowi ini memberikan banyak reaksi dari masyaraat utamanya dari para pendukunya, pilihan yang beliau jatuhkan kepada K.H. Maruf amin itu bukan pilihan yang disukai oleh kebanyakan dari pendukungnya, bahkan pendukungnya merasa yang beliau lakukan adalah pendekatan pragmatis untuk memperoleh suara dari golongan masyarakat mayoritas di indonesia. Hal ini berkontradiksi utamanya dengan para pendukung bapak jokowi yang memandang bahwa pak prabowo melakukan pendekatan pragmatis kepada suara Islam dengan mendekat ke kubu konservatif, sekarang pak jokowi juga bersama K.H. Ma’ruf Amin berusaha untuk mendapat hal serupa, ato setidaknya mendapatkan jaminan dukungan dari kekuatan umat mayoritas di Indonesia.  Tidak dapat dipungkiri keputusan memilih K.H Ma’ruf Amin tidak didapatkan oleh pak jokowi itu sendiri tapi dihasilkan bersama para ketua umum kubu koalisinya, sehingga menjadi eresahan bagi para pendukungnya, dapat dilihat bahwa keputusan ini syarat dengan kepentingan dan  kebutuhan  partai dipandang bukan kebutuhan rakyat Indonesia. Jadi dari pemetaan pendukung beliau, banyak pendukung beliau yang dari awalnya mendukung pak jokowi dalam kelompoknya yang mendukung pak jokowi besama ahok pada waktu yang lalu, karena merasa kecewa akan keputusan k.H. Ma’ruf Amin tentang fatwa penistaan agama terhadap Ahok, dala hal ini mereka berpandangan K.H. Ma’rufAmin ikut bertanggungjawab atas dipenjatrakanya Ahok. Dalam siuasi orang-orang merasa semacam itu, justru K.H. ma’ruf Amin ditarik menjadi Capres mendampingin Pak Jokowi. Sementara K.H. Ma’ruf Amin juga kita sama-sama tauhu bahwa beliau sudah memiliki usia yang cukup tua, hal ini juga menjadikan masyarakat berpikir bahwa beliau hanya dipakai figurnya yang pada akhirnya nanti pak jokowi akan berkerja sendiri, meskipun juga pasti dibantu oleh para jajaran menterinya.
Disisi lain pilihan jokowi juga bagus dalam memilih K.H. Ma’ruf Amin karena akan membuat sentimen agma dalam pilpres akan berkurang, meskipun langkah ini tergolong pragmatis tapi ini juga termasuk langah strategis karena diluar perkiraan kubu oposisi. Karena tidak dipungkiri pada saat itu pak Prabowo sangat didorong untuk memilih pasangannya dari beberapa pilihan Ulama. Keputusan ini sangat berdampak dalam proses kampanye mereka. Keputusan ini juga menimblkan kebingungan, salah satu tanda kebingungan yang terjadi adalah ajakan mereka kepada masyarakat khususnya pendukunganya untuk tidak Golput, ajakan untuk tidak golput dilakukan sangat dini dmasa kampanye menandakan adanya kekhawatiran kepa para pendukungnya bahwa mereka lebih memilih Golput dari pada memilihnya.
Dari kudu sebelah, yaitu pak prabowo dan Sandi, pasangannya ini diluar perkiraan masyarakat, karena sebelumnya pak prabowo telah mendapat rekomendasi-reomendasi pasangan dari berbagai pihak. Tetapi pilihannya justru jauh kepada Sandiaga yang bisa dibilang berasal dari partainya sendiri. Hal ini dipandang keputusan yang kurang strategis karena dalam kontes politik kita seharunsya mencari sebanyank-banyaknya kantong suara yang berasala dari bebagi partai.
Tetapi pilihannya tidak begitu buruk karena, Pak Sandi dipandang dapat menarik banyak suara dari kalangan muda dan yang disebut dengan ‘emak-emak’ karena paras dan prestasinya. Nama pak sandi muncul secara tiba-tiba dan diluar perkiraan, hal ini juga membuat kebingungan pada masyarakat meskipun partai koalisinya akhirnya menerima hal itu. Tetapi dalam pandangan masyarakat masyarakat, komposisi ini adalah komposisi yang pas dan dipandang moderat. Meskipun pada kubu oposisi juga mencul kekhawatiran tidak mendapatkan dukungn dari kekuatan umat mayoritas di Indonesia, ditandai dengan dinobatkannya Sandiaga Uno menjadi Santri Post Ismlamisme. 

To be Continuee..