Kontes
politik di Indonesia semakin dinamis dari tahun ke tahun, utamanya pada tahun
2019. Dewasa ini banyak perbedaan pandangan politik dan pilihan politik di masyaraat, dari kalangan anak muda sampai orang-orang
tua. Ini adalah sebuah prestasi dalam masyarakat, karena mereka mulai sadar bahwa
politik adalah salah satu penentu arah kehidupan dalam negara yang secara langsung
maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan mereka. Namun, prestasi ini juga
menjadi tantangan yang akan membuktikan seberapa dewasa bangsa kita dalam
berpikir dalam dimensi kesadaran dan ruang nuraninya. Tulisan ini hanya sebuah pikiran
kecil dari akademisi yang ingin ikut berperan dalam kemajuan bangsa, menyambut debat pertama malam nanti.
Kontes politik 2019 sejatinya telah dimulai sejak
terpilihnya salah satu paslon pada 2014 lalu, tetapi secara resmi kontes 2019
ini diawali pada pengumuman masing calon dan pasangannya pada September 2018
yang memang sirtuasinya agak berbeda, ini bakal jadi pertarungan yang menarik
dan besar harapan menjadikan masyarakat semakin cerdas dalam memandang politik.
Kita bakal bahas satu2 tentang komposisi masing2, kalo dari pak jaokowi pasangannya
adalah K.H. Ma’ruf Amin dan Pak Prabowo maju bersama Sandiaga Uno yang
sebelumnya adlaah wagub dari pak anis baswedan. kita mulai dr pk jokowi dulu ya,
komposisi dari pak jokowi ini memberikan banyak reaksi dari masyaraat utamanya
dari para pendukunya, pilihan yang beliau jatuhkan kepada K.H. Maruf amin itu
bukan pilihan yang disukai oleh kebanyakan dari pendukungnya, bahkan pendukungnya
merasa yang beliau lakukan adalah pendekatan pragmatis untuk memperoleh suara
dari golongan masyarakat mayoritas di indonesia. Hal ini berkontradiksi
utamanya dengan para pendukung bapak jokowi yang memandang bahwa pak prabowo
melakukan pendekatan pragmatis kepada suara Islam dengan mendekat ke kubu
konservatif, sekarang pak jokowi juga bersama K.H. Ma’ruf Amin berusaha untuk
mendapat hal serupa, ato setidaknya mendapatkan jaminan dukungan dari kekuatan
umat mayoritas di Indonesia. Tidak dapat
dipungkiri keputusan memilih K.H Ma’ruf Amin tidak didapatkan oleh pak jokowi
itu sendiri tapi dihasilkan bersama para ketua umum kubu koalisinya, sehingga menjadi
eresahan bagi para pendukungnya, dapat dilihat bahwa keputusan ini syarat dengan
kepentingan dan kebutuhan partai dipandang bukan kebutuhan rakyat
Indonesia. Jadi dari pemetaan pendukung beliau, banyak pendukung beliau yang
dari awalnya mendukung pak jokowi dalam kelompoknya yang mendukung pak jokowi
besama ahok pada waktu yang lalu, karena merasa kecewa akan keputusan k.H. Ma’ruf
Amin tentang fatwa penistaan agama terhadap Ahok, dala hal ini mereka
berpandangan K.H. Ma’rufAmin ikut bertanggungjawab atas dipenjatrakanya Ahok. Dalam
siuasi orang-orang merasa semacam itu, justru K.H. ma’ruf Amin ditarik menjadi Capres
mendampingin Pak Jokowi. Sementara K.H. Ma’ruf Amin juga kita sama-sama tauhu
bahwa beliau sudah memiliki usia yang cukup tua, hal ini juga menjadikan masyarakat
berpikir bahwa beliau hanya dipakai figurnya yang pada akhirnya nanti pak
jokowi akan berkerja sendiri, meskipun juga pasti dibantu oleh para jajaran menterinya.
Disisi lain pilihan jokowi juga bagus dalam memilih K.H.
Ma’ruf Amin karena akan membuat sentimen agma dalam pilpres akan berkurang, meskipun
langkah ini tergolong pragmatis tapi ini juga termasuk langah strategis karena
diluar perkiraan kubu oposisi. Karena tidak dipungkiri pada saat itu pak Prabowo
sangat didorong untuk memilih pasangannya dari beberapa pilihan Ulama. Keputusan
ini sangat berdampak dalam proses kampanye mereka. Keputusan ini juga
menimblkan kebingungan, salah satu tanda kebingungan yang terjadi adalah ajakan
mereka kepada masyarakat khususnya pendukunganya untuk tidak Golput, ajakan
untuk tidak golput dilakukan sangat dini dmasa kampanye menandakan adanya
kekhawatiran kepa para pendukungnya bahwa mereka lebih memilih Golput dari pada
memilihnya.
Dari kudu sebelah, yaitu pak prabowo dan Sandi,
pasangannya ini diluar perkiraan masyarakat, karena sebelumnya pak prabowo telah
mendapat rekomendasi-reomendasi pasangan dari berbagai pihak. Tetapi pilihannya
justru jauh kepada Sandiaga yang bisa dibilang berasal dari partainya sendiri. Hal
ini dipandang keputusan yang kurang strategis karena dalam kontes politik kita
seharunsya mencari sebanyank-banyaknya kantong suara yang berasala dari bebagi
partai.
Tetapi pilihannya tidak begitu buruk karena, Pak Sandi
dipandang dapat menarik banyak suara dari kalangan muda dan yang disebut dengan
‘emak-emak’ karena paras dan prestasinya. Nama pak sandi muncul secara
tiba-tiba dan diluar perkiraan, hal ini juga membuat kebingungan pada masyarakat
meskipun partai koalisinya akhirnya menerima hal itu. Tetapi dalam pandangan masyarakat
masyarakat, komposisi ini adalah komposisi yang pas dan dipandang moderat. Meskipun
pada kubu oposisi juga mencul kekhawatiran tidak mendapatkan dukungn dari kekuatan
umat mayoritas di Indonesia, ditandai dengan dinobatkannya Sandiaga Uno menjadi Santri Post Ismlamisme.
To be Continuee..